Rabu, 25 November 2015

HARAPAN PETANI KAKAO ’’BELANDA’’



Yulianus Yaru, tertegun menatap kebun kakao yang nampak terawat namun berantakan. Biji  hasil panen kebun  yang dirawat apa adanya menjadi salah satu sumber pendapatan tetap bagi keluarganya. Bapak Yulianus tidak sendiri melakukan kegiatan berkebun kakao, ada 32 petani kakao yang tergabung dalam kelompok petani kakao “SRUKUMANI” di Kampung Sabeyab Besar, Distrik Kemtuk Kabupaten Jayapura Papua. Kebun kakao milik 32 petani kelompok SRUKUMANI ini merupakan warisan orang tua.
Kakao mulai diperkenalkan dan di tanam sejak tahun 1959 ketika pemerintah Belanda masih melakukan kegiatan di tanah papua. Kampung Sabeyab Besar menjadi salah satu  lokasi penanaman kakao oleh Belanda, sehingga masyarakat setempat mengenal sebutan bagi kakao ini sebagai kakao “Belanda”. Pada tahun 2005, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian melakukan gerakan nasional wajib tanam kakao yang salah satu lokasinya adalah di Kampung Sabeyab Besar ini. Jenis kakao yang ditanam adalah kakao dengan jenis varietas Trinitario. Masyarakat mengenal jenis kakao ini sebagai kakao “Jember”.
Pasca pengembangan kakao puluhan tahun lalu, Yulianus dan rekan- rekan kelompok taninya mengurus sendiri perkebunan kakaonya dengan pengetahuan dan peralatan seadanya. Biji kakao yang di panen, lalu dijemur dan dijual kepada pedagang pengumpul seharga Rp. 24.000/kgnya dengan rata-rata setiap petani dapat memproduksi 20 Kg biji setiap kali panen. Kakao milik Kelompok Tani Srukumani dapat dipanen sebanyak 3 kali sepanjang tahun. Nilai pendapatan dari menjual biji kakao adalah Rp. 1.440.000 per tahun.
Masalah terberat yang dihadapi petani kakao adalah pengetahuan, pendampingan dan peralatan pendukung dalam mengelola kebun kakao dan meningkatkan kualitas biji kakao. Serangan Hama dan penyakit pasti akan dapat teratasi jika ada pengetahuan yang baik tentang perawatan kebun kakao yang semestinya.
Mata pencaharian alternatif  dilakukan pula oleh masyarakat guna mencukupi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, maka mereka melakukan kegiatan penjualan kayu,  pertanian dan menjual hasil panen buah rambutan, pinang dan matoa.
Pada tahun 2012, WWF Indonesia Program Papua melalui program pengembangan masyarakat di sekitar hutan melakukan identifikasi tentang mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang memanfaatkan hasil hutan kayu. Budidaya kakao merupakan salah satu mata pencaharian alternatif yang layak karena setiap kepala keluarga di kampung memiliki kebun kakao seluas 1 hektar. Jika di Kampung Sabeyap Besar terdapat 132 kk maka ada 132 hektar kebun kakao.
WWF mulai melakukan berbagai kegiatan untuk lebih mengoptimalkan jumlah produksi dan meningkatkan kualitas biji. Identifikasi jenis kakao, mengkaji kemampuan produksi dari jenis kakao belanda dan kakao jember, pelatihan perawatan kebun, pelatihan perkembang biakan melalui pembibitan, tehnik sambung pucuk dan sambung samping, kajian pasar potensial dan membantu memasarkan dengan pasar yang dituju adalah pasar di negara-negara eropa. Namun semua ini masih belum optimal walaupun sudah berbeda dengan keadaan sebelum WWF melakukan pendampingan. Pendapatan meningkat, dari harga jual biji kering  Rp. 24.000/Kg, saat ini sudah menjadi Rp. 30.000/Kg. Produksi biji kering semakin meningkat, dari 20 kg biji/panen menjadi berkisar 30 - 60 kg biji sekali panen.
Masyarakat petani kakao mulai bergeliat karena termotivasi untuk lebih intensif melakukan pengelolaan kebun kakao karena ada harapan besar untuk meningkatkan pendapatannya. Permintaan pasar eropa terhadap biji kakao meningkat pertahun, namun kemampuan produksi biji kakao belum dapat memenuhinya. Saat ini, yulianus dan kelompok tani sukumani sedang giat melakukan sulam untuk mengganti  tanaman kakao tua dengan tehnik menanam bibit baru, tehnik sambung pucuk dan sambung samping  dengan jenis kakao belanda walaupun tingkat keberhasilannya sangat rendah karena menggunakan peralatan seadanya. Jenis yang dipakai untuk menyulam adalah kakao belanda. Kakao belanda dipilih karena lebih tahan hama penyakit dan kemampuan produksinya tinggi jika dibandingkan kakao jember.
Dukungan pemerintah sangat dibutuhkan Yulianus dan rekan-rekannya terutama bantuan peralatan perawatan kebun seperti gergaji pangkas,  pisau sambung pucuk dan pisau sambung samping sangat dibutuhkan untuk kegiatan penyulaman kebun kakao tua ini.

Tulisan ini uji coba pasca pelatihan menulis artikel


Penulis ;
Kornelis Kindem
Juswono Budisetyawan
Ronald Tethool

Maria sherlly

Tidak ada komentar:

Posting Komentar