Yulianus Yaru, tertegun menatap
kebun kakao yang nampak terawat namun berantakan. Biji hasil panen kebun yang dirawat apa adanya menjadi salah satu
sumber pendapatan tetap bagi keluarganya. Bapak Yulianus tidak sendiri
melakukan kegiatan berkebun kakao, ada 32 petani kakao yang tergabung dalam
kelompok petani kakao “SRUKUMANI” di Kampung Sabeyab Besar, Distrik Kemtuk Kabupaten
Jayapura Papua. Kebun kakao milik 32 petani kelompok SRUKUMANI ini merupakan
warisan orang tua.
Kakao mulai diperkenalkan dan di
tanam sejak tahun 1959 ketika pemerintah Belanda masih melakukan kegiatan di
tanah papua. Kampung Sabeyab Besar menjadi salah satu lokasi penanaman kakao oleh Belanda, sehingga
masyarakat setempat mengenal sebutan bagi kakao ini sebagai kakao “Belanda”. Pada
tahun 2005, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian melakukan
gerakan nasional wajib tanam kakao yang salah satu lokasinya adalah di Kampung
Sabeyab Besar ini. Jenis kakao yang ditanam adalah kakao dengan jenis varietas Trinitario.
Masyarakat mengenal jenis kakao ini sebagai kakao “Jember”.
Pasca pengembangan kakao puluhan
tahun lalu, Yulianus dan rekan- rekan kelompok taninya mengurus sendiri
perkebunan kakaonya dengan pengetahuan dan peralatan seadanya. Biji kakao yang
di panen, lalu dijemur dan dijual kepada pedagang pengumpul seharga Rp. 24.000/kgnya
dengan rata-rata setiap petani dapat memproduksi 20 Kg biji setiap kali panen. Kakao
milik Kelompok Tani Srukumani dapat dipanen sebanyak 3 kali sepanjang tahun.
Nilai pendapatan dari menjual biji kakao adalah Rp. 1.440.000 per tahun.
Masalah terberat yang dihadapi
petani kakao adalah pengetahuan, pendampingan dan peralatan pendukung dalam
mengelola kebun kakao dan meningkatkan kualitas biji kakao. Serangan Hama dan
penyakit pasti akan dapat teratasi jika ada pengetahuan yang baik tentang
perawatan kebun kakao yang semestinya.
Mata pencaharian alternatif dilakukan pula oleh masyarakat guna mencukupi
pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, maka mereka melakukan kegiatan penjualan
kayu, pertanian dan menjual hasil panen
buah rambutan, pinang dan matoa.
Pada tahun 2012, WWF Indonesia
Program Papua melalui program pengembangan masyarakat di sekitar hutan
melakukan identifikasi tentang mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang
memanfaatkan hasil hutan kayu. Budidaya kakao merupakan salah satu mata
pencaharian alternatif yang layak karena setiap kepala keluarga di kampung
memiliki kebun kakao seluas 1 hektar. Jika di Kampung Sabeyap Besar terdapat
132 kk maka ada 132 hektar kebun kakao.
WWF mulai melakukan berbagai kegiatan untuk
lebih mengoptimalkan jumlah produksi dan meningkatkan kualitas biji. Identifikasi
jenis kakao, mengkaji kemampuan produksi dari jenis kakao belanda dan kakao jember,
pelatihan perawatan kebun, pelatihan perkembang biakan melalui pembibitan,
tehnik sambung pucuk dan sambung samping, kajian pasar potensial dan membantu
memasarkan dengan pasar yang dituju adalah pasar di negara-negara eropa. Namun
semua ini masih belum optimal walaupun sudah berbeda dengan keadaan sebelum WWF
melakukan pendampingan. Pendapatan meningkat, dari harga jual biji kering Rp. 24.000/Kg, saat ini sudah menjadi Rp.
30.000/Kg. Produksi biji kering semakin meningkat, dari 20 kg biji/panen menjadi
berkisar 30 - 60 kg biji sekali panen.
Masyarakat
petani kakao mulai bergeliat karena termotivasi untuk lebih intensif melakukan
pengelolaan kebun kakao karena ada harapan besar untuk meningkatkan
pendapatannya. Permintaan pasar eropa terhadap biji kakao meningkat pertahun,
namun kemampuan produksi biji kakao belum dapat memenuhinya. Saat ini, yulianus
dan kelompok tani sukumani sedang giat melakukan sulam untuk mengganti tanaman kakao tua dengan tehnik menanam bibit
baru, tehnik sambung pucuk dan sambung samping
dengan jenis kakao belanda walaupun tingkat keberhasilannya sangat
rendah karena menggunakan peralatan seadanya. Jenis yang dipakai untuk menyulam
adalah kakao belanda. Kakao belanda dipilih karena lebih tahan hama penyakit
dan kemampuan produksinya tinggi jika dibandingkan kakao jember.
Dukungan
pemerintah sangat dibutuhkan Yulianus dan rekan-rekannya terutama bantuan
peralatan perawatan kebun seperti gergaji pangkas, pisau sambung pucuk dan pisau sambung samping
sangat dibutuhkan untuk kegiatan penyulaman kebun kakao tua ini.
Tulisan ini uji coba pasca pelatihan menulis artikel
Penulis ;
Kornelis
Kindem
Juswono
Budisetyawan
Ronald Tethool
Maria sherlly
Tidak ada komentar:
Posting Komentar